Kamis, 30 Agustus 2012

Lautan Pengorbanan Ibu

            Suara gaduh berganti dengan suasana hening tepat setelah Bu Lastri, guru fisika masuk ke kelas. Seisi kelas menjawab salam wanita bertubuh gempal itu. Salam pembukaan diiringi kalimat motivasinya seperti biasa lalu Bu Lastri hendak membagikan kertas ulangan murid-muridnya. Tapi sebelumnya, ia membacakan nilai tertinggi dan nilai terendah di kelas.
            “Nanti yang ibu sebutkan namanya maju ya untuk mengambil kertas ulangan. Yang pertama Ibu bagikan nilai tertinggi. Nilai tertinggi diraih oleh...”
            Masayu tersenyum dengan penuh percaya diri karena yakin dia yang akan meraih nilai tertinggi. Dia melongok keseluruh sisi kelas seraya memainkan ujung-ujung rambutnya yang digerai. Lihat saja jangan kaget, pasti aku  lagi yang dapet nilai tertinggi, pikirnya.
            “...dan yang memperoleh nilai tertinggi adalah Masayu. Silahkan beri tepuk tangan.
            Masayu maju dengan gaya angkuhnya dan masih dengan senyum kebanggaannya.
            “Selamat ya. Pertahankan,” ucap Bu Lastri. Masayu mengangguk.
            “Sekarang yang memperoleh nilai terendah adalah Maya.”
        Seluruh murid serentak mencemooh. Bu Lastri menenangkan. Maya terus saja menunduk. Dia sudah memprediksi kalau jadinya akan seperti ini. Dia akhir-akhir ini tidak bisa konsentrasi belajar karena tertekan oleh ejekan teman-temannya. Mulai bulan lalu, ibunya yang bisu tuli bekerja di kantin sekolah.
            “Tak apa. Sini, Nak,” bujuk Bu Lastri.
            Maya maju dengan langkah pelan tapi tiba-tiba dia terjatuh karena tersandung kaki Masayu. Masayu sengaja merentangkan kakinya untuk mengerjai Maya.
            “Makanya jalan itu juga mikir pakai otak. Udah enggak punya otak, ibunya bisu tuli lagi. Lengkap banget,” ejek Masayu sambil tertawa. Seisi kelas ikut tertawa.
            Bu Lastri menenangkan lagi.
            “Ada apa Maya? Kamu ada masalah kok sampai nilaimu bisa turun drastis seperti ini?” tanya Bu Lastri.
          Maya menggeleng lalu menunduk lagi. Sejak ibunya bekerja di kantin, teman-temannya jadi sering mencemoohnya. Hal ini membuat Maya jadi murung dan tertutup dengan teman-temannya meskipun terkadang ada yang ingin benar-benar tulus berteman dengannya tapi Maya menanggapinya dengan dingin karena baginya teman-teman di sekolahnya itu sama saja.
*****
            Kelas fisika telah usai, Maya berlari ke kamar kecil dan menangis sesenggukan disana. Dia tidak terbiasa menceritakan apa yang dialaminya pada orang lain. Semuanya dia pendam sendiri sampai terkadang dia berniat mengakhiri hidup. Setelah puas dan air matanya kering, dia keluar dari kamar kecil. Kertas ulangan yang menorehkan tinta merah membentuk angka empat puluh dia gulung hingga membuat bola kecil. Masayu yang melihat tingkahnya menabrak hingga bola kecil itu jatuh. Masayu memungutnya dan dia tersenyum licik setelah melihat isi dari kertas itu.
            “Kembalikan. Cepat kembalikan.”
Maya mengulur tangannya untuk menjangkau kertas ulangannya, tapi Masayu dan dua temannya berkelit dengan sigap sehingga bisa melarikan kertas itu. Maya hanya bisa berteriak kesal. Di waktu istirahat, dia membantu ibunya di kantin. Ada Masayu juga disitu sudah duduk dengan kedua temannya yang bersiap memesan.
“Eh anaknya si bisu dateng,” celetuknya.
Maya melirik kesal.
“Bodoh, bodoh, aku pesen mi gorengnya tiga tapi, eits jangan nyebarin virus bodohmu ke makanan kami ya.” Ejekan Masayu disambut dengan tawa kedua temannya.
            Maya mengantar pesenan Masayu. Dia dengan cepat-cepat meletakkan tiga piring berisi mie goreng ke meja Masayu. Dan dengan cepat pula Era, teman geng Masayu menempelkan kertas ulangan Maya di punggung Maya. Setelahnya mereka tertawa puas lagi. Maya hanya melihatnya dengan perasaan curiga. Ibu Maya melepas kertas ulangan itu lalu membacanya. Ibu marah dengan bahasa isyarat.
            ‘Kamu itu kenapa, Nak? Kenapa bisa dapet nilai segini? Ibu sudah kerja banting tulang sendiri untuk kamu tapi apa balesannya buat Ibu?’
            ‘Ibu harusnya bisa ngerti. Mereka selalu mengejek Maya. Maya anak bodoh dari bisu tuli yang miskin. Mereka setiap hari mengolok-olok Maya. Maya tidak tahan, Bu. Maya tidak bisa belajar kalau terus saja kepikiran dengan ini.’
            ‘Nak, balas mereka dengan prestasi. Biar saja mereka begitu. Kalau kamu bisa punya banyak prestasi pasti mereka akan berhenti mengejekmu.’
            Maya menangis lagi. Ada ruang yang sedikit lega di hatinya karena telah dikeluarkan.

****
            Bola basket memantul di lapangan basket yang bersemen. Maya mendriblenya lalu melemparkannya ke ring. Tapi tidak masuk. Masayu yang melihatnya tak melewatkan momen itu untuk dijadikan bahan ejekan lagi.
            “Yah udah bodoh, ternyata anaknya bisu tuli juga enggak becus masukin bola.”
            “Dasar kampungan. Orang miskin tuh pinternya maen gundu aja.” Era menimpal.
            Maya melempar bolanya lalu mendekati geng Masayu.
“Apa sih salahku sampai kalian selalu saja mengolokku? Apa pernah aku membuat kesalahan besar ke kalian?”
“Wowowow, Si bodoh rupanya sudah mulai berani nyolot nih,” seru Alethea.
“Salah kamu? Salah kamu itu udah bodoh, miskin, punya ibu bisu tuli. Itu salah kamu,” ungkap Masayu.
Emosi Maya serasa sudah mau keluar dari ubun-ubunnya. Dia mendorong Masayu hingga terjatuh dan seketika itu terjadi ricuh. Bu Lastri yang melihatnya segera melerai dan membawa mereka ke ruang Bimbingan Konseling. Setelahnya Ibu Maya dipanggil dan diberitahukan bahwa Maya mendapat skorsing selama seminggu karena memulai pertengkaran.
****
            ‘Apa kamu enggak bisa ngerti lagi maksud Ibu, Maya? Ibu sendirian membesarkan kamu, membiayai sekolah kamu tapi kamu malah membuat ulah.’
            Maya bersungut karena masih emosi dengan hukumannya.
            ‘Ini bukan salah Maya, Bu. Ini salah Ibu karena udah bisu tuli. Coba kalau Ibu enggak bisu tuli pasti Maya enggak akan melawan mereka. Maya udah enggak tahan diejek mereka.’ Maya berlari ke kamarnya dan membanting pintu keras-keras. Ibu mengelus dada. Tetesan air matanya membulir melewati lekuk pipinya.
****
            Skorsing membuat Maya selalu berada di kantin sepanjang hari untuk membantu ibunya. Dia menggoreng gorengan sementara ibunya membuat adonan. Mengantar pesanan dan mencuci piring setelahnya. Dia menggoreng lagi adonan yang telah dibuat ibunya. Masayu dan gengnya mendekati gorengan yang tersaji di dekat penggorengan.
            “Apaan nih?” Masayu mengernyit lalu mencomot satu buah gorengan.
            Maya memperhatikan tingkahnya.
            “Ih, makanan apaan nih? Mau ngeracunin ya?” Masayu memuntahkan gorengan itu dan membuang sisanya tepat di depan Maya. Dan dia beserta geng yang menguntitnya meninggalkan kantin tanpa rasa bersalah.
            Maya bertambah kesal. Ibu yang tahu kejadian itu mendekatinya. Ibu mengelus-elus pelan bahu anak semata wayangnya.
        ‘Mencelupkan adonannya dari pinggir jangan dari tengah. Seperti ini.’ Ibu mencontohkan.
            ‘Ah apaan sih Ibu nggoreng kaya gini itu sama aja kali mau dari pinggir dari tengah entar juga jadi,’ ujar Maya seraya mencelupkan adonan dengan hentakan. Minyak panas di penggorengan muncrat dan mengenai muka Maya. Refleks dia menutupi mukanya dan berteriak kesakitan. Ibu berteriak meminta tolong. Maya segera dibawa di rumah sakit.
            Sesampainya di rumah sakit dan diperiksa, dokter memberitahu Ibu kalau mata Maya menadi buta akibat cipratan minyak panas itu. Ibu membekap mulutnya seketika. Buliran air mata menggenang di pelupuk matanya. Maya yang mendengarnya menjerit histeris. Tak tega melihat anaknya sedih, Ibu memutuskan untuk melakukan pengorbanan untuk Maya.
****
            Operasi pun dilakukan dengan sukses. Suster bersiap membuka lapis demi lapis perban yang membalut mata Maya. Maya mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia melirik ke kanan dan kiri. Kini dia bisa melihat lagi.
            “Siapa yang telah mendonorkan kornea mata untuk saya, Dokter?” tanya Maya.
            “Temuilah dia di depan dan jangan lupa pakai gaun ini saat menemuinya.”
          Dokter meletakkan gaun merah cantik ke pangkuan Maya. Gaun itu sebelumnya pernah dilihatnya di etalase sebuah toko. Gaun merah itu tergantung apik di sebuah maniken. Maya meminta ibunya untuk membelikannya tapi ibu menolak karena tidak punya uang. Gara-gara itu Maya marah dan tidak mau makan seharian. Maya meraih gaun itu dan memakainya. Dia mengendap keluar ruang pasien. Dilihatnya seorang wanita yang duduk di ruang tunggu. Terlihat mukanya yang penyabar meskipun memakai kacamata hitam. Disampingnya tergeletak tongkat kayu yang menuntun arah jalannya. Maya langsung menghambur ke pelukan ibunya. Dia menangis tersedu.
           ‘Maafin Maya, Bu. Ibu sudah memberikan segalanya untuk Maya tapi Maya malah selalu membuat hati Ibu sakit hati.’
            Ibu ikut menangis terharu. Dia mengelus punggung anaknya dengan lembut.
            ‘Ibu, bagaimana Maya bisa membalas semua kebaikan Ibu? Pengorbanan Ibu.’
           ‘Ibu enggak minta apapun, Sayang. Ibu hanya ingin Maya bahagia. Maya bisa menjadi orang sukses biarpun Ibunya bisu tuli dan sekarang buta.’
            ‘Maya pasti akan sukses, Bu. Ibu pasti akan bahagia dan bangga. Maya janji. Maya janji.’
            Pelukan dan ibu tangisan bahagia itu menjadi awal semangat belajar Maya. Dia bisa menggeser Masayu dari posisi juara kelasnya.

Sabtu, 18 Agustus 2012

Kasih Sayang Ibu

Nilai kehidupan hari ini, dikisahkan seorang wanita karir yang masih lajang bernama Gina. Gina hanya tinggal dengan ibunya dan seorang pembantu yang merawat ibunya yang sudah renta.
“Prang.” Ibu Gina memungut panci yang baru saja tak sengaja dijatuhkannya.
Gina yang baru pulang dari kerja masuk ke rumah dengan raut marah, “Ibu ngapain sih?”
“Ibu mau masak buat kamu, Nak,” jawabnya.
“Ngapain sih pake masak segala. Ini malah bikin berantakan semua. Ngrepotin aja. Udah sana ibu ke kamar aja.”
Si ibu menurut.
“Bibi, buruan kesini,” teriak Gina sembari berkacak pinggang.
Si bibi menghampiri dengan tergopoh-gopoh. “Ada apa nyah?”
“Ini rapiin semua ulah ibu,” perintah Gina.
****
“Iya Pak, selamat malam.” Gina menjawab telepon dari atasannya.
“Pekerjaan yang saya berikan tadi sudah kamu kerjakan?” tanya suara di seberang.
“Iya Pak, ini sedang saya kerjakan.”
“Malam ini harus sudah kamu selesaikan ya.”
“Baik Pak.”
Gina menutup telepon lantas terburu-buru membuka lembar pekerjaannya sambil menyalakan laptop. Jari-jarinya mulai mengetik dengan tergesa-gesa. Selang beberapa menit kemudian, Ibu masuk ke kamarnya.
“Gina,” panggilnya. Ibu terbatuk-batuk, tangannya terus saja mengelus-elus dadanya.
“Apa sih, Bu.”
“Ibu minta dikerokin.”
“Apa Bu? Apa enggak bisa liat ini aku lagi sibuk!” tolak Gina dengan nada meninggi.
“Tapi ibu enggak enak badan, Nak. Cuma sebentar.”
Gina tetap berkutat pada pekerjaannya.
“Nak?” panggil ibu lagi. Tiba-tiba Ibu batuk-batuk keras lalu muntah. Muntahannya mengotori map-map yang tertata di meja kerja Gina.
“Ih Ibu ini pake muntah segala. Haduh bagaimana ini pekerjaanku jadi kotor semua. Bibi!” Gina memungut map-mapnya lalu membersihkannya. Bibi berlari tergopoh-gopoh menghampiri sumber suara.
“Ini bawa Ibu keluar dari kamarku. Kerokin juga ya.”
Bibi mengangguk lantas mengajak Ibu ke kamar. Gina mengunci kamarnya agar Ibu tidak mendatangi kamarnya lagi.
****
Sore itu Gina duduk di teras sendiri. Tangannya meraih handphone lalu memencet beberapa digit nomor sehingga terhubung dengan kekasihnya.
“Beb, pokoknya minggu ini kamu harus melamarku. Aku pengen nikah secepatnya. Aku sudah enggak betah tinggal sama ibu.”
Suara seberang menjawab, “Iya sayang, nunggu waktu ya soalnya aku lagi sibuk.”
“Aku juga lagi sibuk sama kerjaanku dan ditambah lagi ngurusin Ibu. Pokoknya aku mau kamu nikahin aku minggu ini.” Gina menutup obrolannya karena terganggu dengan suara tangis bayi di teras rumah seberang.
Gina mengamati seorang ibu yang sedang menggendong bayinya itu dengan kesal.
“Cup cup sayang. Pipis ya. Coba Ibu periksa.” Si Ibu diseberang meraba popok bayinya. Terasa basah. Lantas dia menggantinya dengan yang baru tapi si bayi masih tetap menangis. Si ibu menggendong bayinya kembali. Mengelus lembut kepala bayinya sembari menenangkan dengan suaranya yang penuh kasih.
Raut kesal Gina berganti beberapa detik dengan tatapan tertegun. Dia teringat saat ibunya selalu sabar membersihkan ingusnya, mencebokinya, menyuapinya meskipun dia selalu saja menolak makanan yang akan disuapkan padanya, dan masih banyak lagi kenangan-kenangan yang mengisyaratkan kasih sayang ibunya. Dia segera berlari menghampiri ibunya. Mengambil baskom berisi air hangat lalu membasuh kaki ibunya. Ibu memeluk Gina lembut.
“Maafkan aku, Ibu,” ucapnya dengan tetesan air mata penyesalan.

 Dan meskipun seluruh dunia kau berikan, tak akan pernah bisa membalas kasih sayang ibumu.

Pemberian Tanpa Syarat



                Kisah nilai kehidupan kali ini tentang pemuda yang akan mengikuti sholat led. Langkahnya terburu-buru karena sholat led di masjid dekat rumahnya akan berlangsung sekitar lima menit lagi. Di perjalanan, dia bertemu dengan seorang anak laki-laki berambut keriting dan kulit gelap tapi muka ramah selalu dia tampakkan.
“Om om,” panggilnya seraya mengikuti arah jalannya si pemuda.
“Ada apa, Dek?” Langkahnya terhenti.
“Ini om, korannya.” Tangan kanan si anak menyodorkan satu bendel koran, sedangkan tangan yang lain mendekap bendel-bendel koran.
Pemuda menatap aneh pada kalung berlambang salip yang dikenakan si anak. Pasti anak ini ingin menghambatnya pergi ke masjid, begitu pikirnya.
“Maaf Dek, saya sedang buru-buru,” jawabnya cepat. Langkahnya dipercepat  lagi tap si keriting mempercepat langkahnya pula.
“Ini Om, korannya bawa aja.”
“Enggak Dek. Saya mau sholat led. Udah mau telat ini.”
“Iya makanya itu Om, bawa aja.”
“Enggak Dek. Udah ya.” Pemuda berlari agar tidak diikuti lagi. Untungnya sholat belum dimulai, tapi kini dia bingung karena tempat yang tersisa hanya halaman rumput sedangkan dia lupa tidak membawa sajadah.
Di tengah kebingungannya, si keriting datang lagi. Masih memamerkan senyumnya, dia menyodorkan koran.
“Ini Om, pakai aja ini buat alas,” ujarnya.
Si pemuda mengangsurkan uang ribuan tapi si keriting menolak.
“Sudah Om enggak usah. Selamat menjalankan sholat led ya Om,” ucapnya lalu pergi setelah bersalaman dengan si pemuda yang meminta maaf.

“Saling memaafkan tanpa dendam, saling memberi tanpa isyarat. Minal Aidzin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin”





Jumat, 29 Juni 2012

Analisa Kadar Air

Everyday is Monday...
Minggu tenang disibukkan dengan laporan. Tapi tak apalah, itung itung sambil belajar. Berikut laporan Analisa Kadar Air yang dengan sampel Ikan Bandeng (Chanos chanos) segar

2.1.1.      Tujuan
Tujuan dari praktikum penentuan kadar air dengan metode pengeringan adalah sebagai berikut:
1.      Mengetahui jumlah kadar air dalam produk perikanan serta menyimpulkan dan menganalisa hasil yang diperoleh.
2.      Mengetahui perbandingan hasil kadar air menggunakan moisture analyzer dengan metode pengeringan.
2.1.2.   Tinjauan pustaka
Menurut Bligh (1990), air berfungsi sebagai bahan yang dapat mendispersikan berbagai senyawa yang ada dalam bahan makanan dan berfungsi sebagai pelarut berbagai bahan seperti garam, vitamin yang larut air, mineral, dan senyawa citarasa seperti yang terkandung dalam teh dan kopi. Kandungan air dalam bahan makanan ikut menentukan acceptability, kesegaran dan daya tahan bahan itu. Sebagai bagian dari suatu bahan makanan, air merupakan pencuci yang baik bagi bahan makanan tersebut atau alat-alat yang akan digunakan  dalam pengelolaannya. Sebagian besar dari perubahan-perubahan bahan makanan terjadi dalam media air yang ditambahkan atau yang berasal dari bahan itu sendiri.

Air imbibisi merupakan air yang masuk ke dalam bahan pangan dan akan menyebabkan pengembangan volume, tetapi air ini bukan merupakan komponen penyusun bahan tersebut. Misalnya air dengan beras bila dipanaskan akan membentuk nasi, dan terbentuknya gel dari bahan pati. Sedangkan air kristal adalah air yang terikat dalam semua bahan, baik pangan maupun non pangan yang berbentuk kristal seperti gula, garam, dan CuSO4 (Hadiwiyoto, 1993).

Menurut Muchtadi (1992), penetapan kadar air dapat dilakukan dengan beberapa cara. Biasanya dengan mengeringkan bahan dalam oven pada suhu 105 - 110oC selama  3 jam atau sampai didapat berat yang konstan. Selisih berat sebelum dan sesudah pengeringan adalah banyaknya air yang diuapkan. Bahan yang tidak tahan panas seperti bahan berkadar gula tinggi, minyak, daging, kecap, dan lain-lain dapat diukur kadar airnya dengan menggunakan oven vakum dengan suhu yang lebih rendah. Penentuan kadar air dari bahan yang mengandung air tinggi dan mudah menguap seperti sayuran dan susu menggunakan destilasi dengan pelarut tertentu misalnya toluen, xilol, dan heptana yang berat jenisnya lebih rendah daripada air. 

Ada pula cara-cara kimia untuk menentukan kadar air seperti berdasarkan volume gas asetilen yang dihasilkan dari reaksi kalsium karbida dengan bahan yang akan diperiksa seperti sabun, tepung, kulit, bubuk biji panili, mentega, dan sari buah. Ada pula metode pengeringan berdasarkan reaksi kimia air dengan titrasi langsung dari bahan basah dengan larutan iodin, sulfur dioksida, dan piridina dalam metanol (Spallbolz, 1992).


2.1.3.      Materi dan metode
2.1.3.1.materi
a.                   Alat
Alat yang digunakan pada materi penentuan kadar air adalah sebagai berikut:
Tabel 1.  Alat yang Digunakan pada Materi Penentuan Kadar Air
No.
Alat
Ketelitian
Kegunaaan
1.
Cawan aluminium
-
Sebagai tempat sampel saat dikeringkan
2.
Pisau
-
Memotong dan mencacah sampel
3.
Penjepit kayu
-
Membantu mengangkat cawan
4
Oven
1oC
Sebagai alat pengering
5.
Desikator
-
Menguapkan air dalam sampel
6.
Timbangan elektrik
0,001 g
Menimbang sampel
7.
Plastik
-
Alas saat menimbang sampel
8.
Nampan aluminium
-
Sebagai tempat cawan aluminium
9.
Talenan
-
Alas saat mencacah sampel
10.
Piring
-
Sebagai tempat sampel
11.
Sarung tangan
-
Melindungi tangan saat mengambil cawan dari oven
12.
Sendok
-
Mengambil sampel untuk ditimbang
13.
Moisture analyzer
0,01%
Mengukur kadar air bahan
  1. b.          Bahan
Bahan yang digunakan pada materi penentuan kadar air adalah sebagai berikut:
Tabel 2.  Bahan yang Digunakan pada Materi Penentuan Kadar Air
No.
Bahan
Jumlah
Kegunaaan
1.
Ikan Bandeng (Chanos chanos) segar
10,068 g
Sebagai sampel


2.1.3.2. metode
a.         Pengeringan
Metode yang digunakan pada materi penentuan kadar air dengan pengeringan adalah sebagai berikut:

Gambar 1. Diagram Alir Metode Penentuan Kadar Air dengan Pengeringan.



Kadar air dihitung dengan rumus:




Keterangan:
A = Berat cawan
B = Berat cawan dan sampel sebelum dikeringkan
C = Berat cawan dan sampel setelah dikeringkan
b.        
                b.  Metode Moisture Analyzer




 





Gambar 2. Diagram Alir Metode Penentuan Kadar Air dengan Moisture Analyzer.

2.1.4.      Hasil dan pembahasan
2.1.4.1.hasil
Hasil yang diperoleh dari materi penentuan kadar air adalah sebagai berikut:
Tabel 3.  Hasil  Penentuan  Kadar  Air  Ikan  Bandeng  (Chanos  chanos)  segar kelompok 3 Trip II dengan Metode Pengeringan
Perlakuan
Berat (gr)
Cawan kering (A)
5,746
Cawan + sampel basah (B)
10,671
Cawan + sampel kering (C)
7,105

Tabel 4. Hasil Penentuan Kadar Air Ikan Bandeng (Chanos chanos) segar kelompok 3 Trip I dengan Metode Pengeringan
Perlakuan
Berat (gr)
Cawan kering (A)
5,768
Cawan + sampel basah (B)
10,870
Cawan + sampel kering (C)
7,186

Tabel 5.  Hasil Penentuan Kadar Air Ikan Bandeng (Chanos chanos) segar dengan Moisture Analyzer
Kelompok
Trip
Hasil
3
II
52,79%
3
I
75,09%


2.1.4.2. pembahasan
Penentuan kadar air dalam kelompok kami menggunakan sampel ikan bandeng segar yang menurut Sugiri (1992) memiliki klasifikasi sebagai berikut:
Kingdom         : Animalia
 Filum              : Chordata
 Kelas              : Pisces
 Subkelas         : Teleostei
 Ordo               : Percoidea
 Famili             : Chanidae
 Genus             : Chanos
 Spesies          : Chanos chanos
Langkah awal untuk memulai proses pengeringan adalah dengan membersihkan dan mengeringkan cawan dengan oven dan desikator. Selama proses pengeringan, kita tidak diperbolehkan menyentuh cawan dengan tangan karena dapat mempengaruhi kadar air pada cawan tersebut. Menurut Yudiyanto (2002), pengeringan adalah proses pengeluaran kandungan air bahan hingga mencapai kandungan tertentu. Penguapan air bahan dalam proses pengeringan akan terhenti jika tingkat kebasahan permukaan sama dengan tingkat kebasahan udara sekelilingnya. Oven merupakan alat laboratorium yang bekerja dengan prinsip memancarkan panas yang dapat diatur waktu maupun suhunya. Oven dapat digunakan untuk metode pengeringan, karena dengan panas yang dikeluarkan oven, kandungan air bahan dapat dikeluarkan sehingga produk menjadi lebih kecil kadar airnya. Alat lain yang digunakan untuk pengeringan adalah desikator yang dilengkapi dengan gel silika berwarna biru yang mampu mengikat uap air dari suatu bahan di dekatnya. Menurut (Winarno, 2002), kadang-kadang pengeringan dilakukan tanpa pemanasan, bahan dimasukkan dalam desikator dengan H2SO4 pekat sebagai pengering hingga mencapai berat konstan.

Sampel ikan bandeng (Chanos chanos) segar yang ideal digunakan adalah 5 gram. Kelompok kami menimbang sampel sebanyak 5,007 gr. Banyaknya sampel ini disesuaikan dengan besarnya cawan dan lamanya waktu yang digunakan untuk mengeringkan. Winarno (1993) menyebutkan, beberapa kendala yang berpengaruh pada pengeringan diantaranya ialah persentase air yang dijangkau. Semakin besar jumlah sampel maka persentase air yang dijangkau juga semakin besar.

Penentuan kadar air pada ikan bandeng (Chanos chanos) segar dengan metode pengeringan didapatkan hasil sebesar 72,41%, sedangkan kelompok 3 trip I memperoleh kadar air sebesar 72,16%. Kandungan air kedua sampel tersebut berada dalam jumlah normal dalam tubuh ikan segar. Menurut Hadiwiyoto (1993), ikan segar mempunyai kandungan air sekitar 50 - 80% yang merupakan komponen penyusun terbesar, kemudian disusul dengan protein dan lemak. 

Penentuan kadar air pada ikan bandeng segar menggunakan moisture analyzer didapatkan hasil yaitu 52,79%. Kadar air ini masih tergolong normal seperti yang diungkapkan Hadiwiyoto di atas, walaupun nilainya lebih rendah daripada menggunakan metode pengeringan. Hal ini dapat disebabkan karena selama pengeringan dalam moisture analyzer, bahan tidak mengalami kontak dengan udara sehingga kadar airnya lebih sedikit. Selain itu suhu yang digunakan dalam moisture analyzer lebih tinggi daripada suhu oven. Menurut Adawyah (2007), pada suhu ruang terkandung setidaknya 0,3 – 0,5% uap air, sedangkan pada kelembaban yang lebih tinggi pada suhu yang sama dapat terkandung 0,6 - 0,8% uap air. Uap air dapat meresap langsung pada bahan dalam laboratorium melalui media udara sehingga untuk penelitian seperti penentuan kadar air harus menjaga frekuensi kontak bahan dengan udara.

Kelompok 3 trip I memperoleh hasil yang lebih besar saat mengukur kadar air menggunakan moisture analyzer daripada menggunakan metode pengeringan yaitu 75,09%, padahal di dalam moisture analyzer tidak terjadi kontak dengan udara luar yang mendandung uap air, selain itu suhu yang digunakan dalam moisture analyzer lebih tinggi daripada suhu oven sehingga seharusnya nilai kadar air menggunakan moisture analyzer lebih rendah. Perbedaan hasil dengan teori yang ada dapat disebabkan karena kurang homogennya ukuran cacahan sampel sehingga ada bagian sampel yang menyimpan banyak air namun tidak dapat dikeringkan secara optimum dengan moisture analyzer yang bersuhu tinggi. Selain itu dalam meletakkan sampel di dalam moisture analyzer kurang merata sehingga panas yang dihasilkan moisture analyzer tidak dapat merata di seluruh sampel dan menguapkan air dalam bahan secara sempurna.

Proses thawing yang belum sempurna juga dapat mempengaruhi kadar air dalam bahan saat dihitung menggunakan moisture analyzer karena kristal es yang belum sempat melebur akan memerlukan waktu lebih lama untuk hilang dari bahan. Suhu dan kelembaban udara di sekitar bahan juga dapat mempengaruhi kadar air. Menurut Winarno (2002), kadar air pada permukaan bahan dipengaruhi oleh kelembaban nisbi (RH) udara disekitarnya. Bila kadar air rendah sedangkan RH disekitarnya tinggi, maka akan terjadi penyerapan uap air dari udara sehingga bahan menjadi lembab atau kadar airnya lebih tinggi. Bila suhu bahan lebih rendah (dingin) daripada sekitarnya, akan terjadi kondensasi uap air udara pada  permukaan bahan.

2.1.5.      Kesimpulan dan saran
2.1.5.1.kesimpulan
Berdasarkan praktikum penentuan kadar air dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.      Kadar air pada ikan Bandeng (Chanos chanos) segar yang diperoleh dengan metode pengeringan adalah 72,41% sedangkan dengan menggunakan moisture analyzer adalah 52,79%.
2.      Hasil kadar air yang diperoleh menggunakan moisture analyzer lebih akurat, dengan proses yang lebih mudah, praktis, dan sederhana.
2.1.5.2.saran
Saran yang dapat praktikan berikan pada praktikum penentuan kadar air adalah:
1.      Bahan yang digunakan dalam materi penentuan kadar air perlu ditambah sehingga kita dapat membandingan kadar air beberapa sampel.
2.      Praktikan sebaiknya berhati-hati terhadap alat-alat yang digunakan agar tidak terjadi kesalahan maupun kerusakan.




DAFTAR PUSTAKA

Adawyah, R. 2007. Pengolahan dan Pengawetan Ikan. Bumi Aksara, Jakarta.

Bligh, E.B. 1990. Principles of Food and Science. Marcel Dekker Inc., New York.

Gaman, P. M. dan Sherrington, K. B. 1994. Pengantar Ilmu Pangan Nutrisi. Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Hadiwiyoto, S. 1993. Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan. Jilid I. Liberty, Yogyakarta.

Muchtadi, R. 1992. Teknologi Proses Pengolahan Pangan. PAU Pangan dan Gizi,  Bogor.

Jumat, 30 Maret 2012

Mikroorganisme Patogen dan Komersial



            It's my essay for proposing to be microbiology assistant. perhaps it's so plain, but it's who I am. Need some practical more.
             Mikrobiologi merupakan organisme yang berukuran sangat kecil (mikro) dan hanya dapat dilihat dengan bantuan mikroskop. Mikroorganisme juga sangat cepat berkembangbiak  sehingga mudah tersebar dimana-mana. Sumber-sumber habitatnya dapat berupa air, tanah, udara, makhluk hidup lain, serta sampah.
Mikroorganisme terdapat dalam populasi yang besar dan beragam, dan mereka terdapat hampir dimana-mana di alam ini. Mereka terdapat di aliran air, danau, sungai, dan laut (Pelczar dan Chan, 2008).
 Air adalah sumber potensial terkontaminasinya makanan oleh mikroba. Hujan meneteskan air ke bumi, tetesan tersebut membawa mikroba yang ada di udara. Setibanya air menetes di permukaan tanah, air tersebut akan terkontaminasi oleh mikroba yang ada di tanah dan selanjutnya akan menggenangi kubangan-kubangan air. Uraian tersebut dapat menjelaskan bahwa tidak dapat dipungkiri kubangan tersebut menjadi tempat berkumpulnya berbagai macam mikroba. Mikroba yang biasanya berada dalam air adalah Pseudomonas, Flanobacterium, Cytophaga, Acinobacter, Moraxella, Aeromonas, Corynebacterium, Streptococcus, Klepsiella, Alcaligenes, Bacillus, Escherichia coli, dan Micrococcus. Selain air, tanah juga menjadi sumber habitat yang subur akan mikroorganisme karena tanah merupakan tempat membusuknya jasad makhluk hidup. Makhluk hidup yang telah mati akan terurai menjadi detritus dengan bantuan mikroorganisme. Nutrien dalam jasad tersebut akan menjadi makanan, sehingga mikroorganisme akan berkembangbiak dengan sangat pesat.
Mikrobiologi harus dipelajari karena dalam substansi penyusunnya ada yang bersifat patogen dan ada pula yang komersial. Mikrobiologi yang menguntungkan dapat diaplikasikan dalam produk makanan dengan fermentasi sedangkan keuntungan mempelajari mikrobiologi bersifat patogen adalah mengetahui mikroba apa saja yang dapat membuat produk makanan menjadi rusak dan menimbulkan berbagai macam penyakit. Mikrobiologi menjadi suatu cabang ilmu yang dalam setiap melakukan penelitiannya membutuhkan sterilisasi agar mikroorganisme yang akan dibiakkan tidak terkontaminasi dengan mikroorganisme lain yang tidak diharapkan. Kehati-hatian dalam teknik biakan menjadi kunci keberhasilan suatu penelitian. Kemudahan mikroorganisme untuk berkembangbiak ini tidak hanya menimbulkan kesulitan dalam penelitian, namun juga kesulitan dalam penanganan produk makanan. Khusus program studi yang mempelajari tentang pangan seperti teknologi hasil perikanan harus benar-benar mengerti keuntungan dan kerugian adanya mikroorganisme.
Makanan memiliki nutrisi seperti karbohidrat, protein, lemak, mineral, dan vitamin. Mikroorganisme sangat menyukai nutrisi tersebut sehingga akibatnya bahan makanan yang tidak ditangani dengan baik  akan mudah menjadi pertumbuhan mikroba. Mikroba tersebut dapat memecah protein menjadi rantai yang pendek sehingga mempercepat pembusukan, membuat lemak menjadi cepat tengik, dan mengurai karbohidrat menjadi berbau tidak enak.
Mikroba dapat membusukkan protein, memfermentasikan karbohidrat, dan menjadikan lemak dan minyak menjadi berbau tengik (Supardi, 1999).
Dampak buruk penanganan yang lain adalah populasi mikroorganisme meningkat sehingga menimbulkan berbagai macam masalah, antara lain menjadi sarana penularan beberapa penyakit yang menular dan keracunan makanan yang dapat menimbulkan kematian.
Keberadaan mikroorganisme yang umumnya menjadi pencemar sehingga dapat menimbulkan kerugian, namun di sisi lain dapat pula menguntungkan. Keuntungannya antara lain: berperan dalam proses pembuatan pangan khusus, berperan dalam peningkatan nilai gizi atau nutrisi, berperan dalam pengadaan bau dan rasa, serta berperan dalam perubahan warna.
Mikroorganisme berperan dalam pembuatan produk pangan dengan diolah secara fermentasi. Adanya fermentasi ini tidak hanya memberikan, aroma, rasa, dan penampakan (organoleptik) yang bagus, tetapi juga memberikan daya awet yang lebih lama. Contoh hasil produk pangan fermentasi adalah tauco, tempe, tape, tauco, kecap, bekasam, sosis, keju, bir, brem, tuak, anggur, peda, dan sebagainya. Proses pembuatan tempe terdapat dua jenis mikroba (jenis jamur) yang berperan, yaitu Rhizopus oligosporus dan Rhizopus stonoliferus. Kedua jamur ini mempunyai kemampuan untuk mengubah kedelai menjadi asam amino dan protein lain yang cepat larut apabila masuk ke dalam perut,  sehingga penyerapan protein tempe lebih besar daripada dalam bentuk kedelai. Proses fermnentasi membentuk senyawa-senyawa karbonil, asam lemak, ester, belerang, dan sebagainya yang berperan dalam menimbulkan rasa khas pada produk yang difermentasi.
            Senyawa metil keton, butil aldehid, amonia, amino, dan senyawa anonim menimbulkan bau khas peda (Rahayu, et al., 1992).
            Mikroorganisme tidak semuanya bersifat patogen, tetapi ada pula yang komersial, sehingga mikroorganisme perlu dipelajari dan diteliti untuk membuktikan spesies mana saja yang tergolong menguntungkan dan merugikan,


Minggu, 29 Januari 2012

Hingga Ujung Waktu



Serapuh kelopak sang mawar

Yang di sapa badai berselimutkan gontai

Saat aku menahan sendiri di terpa

Dan luka oleh senja ...


Semegah sang mawar di jaga

Matahari pagi bermahkotakan embun

Saat engkau ada di sini dan pekat

Pun berakhir sudah


Akhirnya aku menemukanmu

Saat ku bergelut dengan waktu

Beruntung aku menemukanmu

Jangan pemah berhenti memilikiku



Hingga ujung waktu

Setenang hamparan samudra

Dan tuan burung camar

Takkan henti bernyanyi



Saat aku berkhayal denganmu

Dan janjipun terukir sudah

Jika kau menjadi suamiku nanti

Fahami aku saat menangis


Saat kau menjadi suamiku nanti

Jangan pemah berhenti memilikiku

Hingga ujung waktu

Jika kau menjadi suamiku nanti


Fahami aku saat menangis

Saat kau menjadi suamiku nanti

Jangan pemah berhenti memilikiku

Hingga ujung ... Waktu